Selasa, 14 Januari 2020

TANTANGAN PENDIDIKAN TINGGI DI ERA REVOLUSI TEKNOLOGI 4.0


TANTANGAN PENDIDIKAN TINGGI DI ERA REVOLUSI TEKNOLOGI 4.0
Oleh :
Asyhari A. Usman
Pendahuluan

Landasan pengembangan pendidikan tinggi didasarkan pada UU No. 12 tahun 2012 tentang pendidikan Tinggi. Hal ini sebagaimana termuat dalam pasal 4 yang menegaskan tentang fungsi pendidikan tinggi, antara lain; (a) mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; (b) mengembangkan Sivitas Akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma; dan (c) mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora.

Dari amanat UU No. 12 Pasal 4, dengan jelas mendorong pendidikan tinggi untuk selalu merespon perkembangan dan bermuara pada terbentuknya manusia yang kreatif, inovatif serta berdaya saing tinggi. Ketegasan ini juga harus memperhatikan nilai-nilai Pancasila, serta kearifan lokal. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong terbentuknya manusia Indonesia yang agamais dan nasionalis. Dalam upaya mewujudkan amanah UU tersebut, pemerintah mulai melakukan berbagai upaya sebagaimana yang diwujudkan melalui penetapan standar Lulusan yang dapat menjawab tantangan dunia kerja.

Revolusi industri menjadi satu momen sejarah yang memutar balik kehidupan manusia baik dalam sosial, ekonomi dan budaya. Revolusi industri pertama kali terjadi di abad 17-18 dimana dimulainya dengan penemuan mesin uap, yang kemudian hal ini mempengaruhi dalam bidang pertanian, pertambangan dan transportasi. Penggunaan mesin dalam manufaktur telah menggantikan tenaga hewan dan manusia yang selama ini menjadi sumber alat atau tenaga kerja dalam produksi, sehingga memberikan dampak signifikan dalam pendapatan masyarakat yang kemudian sangat berdampak atas aspek ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan adanya globalisasi tersebut Kita dapat mengambil dampak positif dimana konektivitas antar Negara dan bangsa, terutama dalam bidang pendidikan akan meningkat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kini menyebabkan perubahan baru bagi dunia yang disebut dengan revolusi industri 4.0.
Dengan adanya era revolusi industri 4.0, itu artinya dunia pendidikan sendiri perlu untuk meramu sistem belajar mengajar guna mempersiapkan generasi di era ini. Dalam dunia digitalisasi di era ini tentunya disrupsi pendidikan telah merebak dalam teknologi pendidikan. Digitalisasi yang merubah data menjadi informasi telah mendisrupsi dunia pendidikan. Mesin pencari informasi menjadi sumber pembelajaran yang sangat kaya dan menyediakan beragam sumber pembelajaran, sehingga seorang peserta didik datang ke kelas sudah dengan beragam informasi yang telah dicari, ditemukan dan didengarnya.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, dalam sambutan tertulis peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-73 tingkat Provinsi Jawa Barat mengungkapkan bahwa guru perlu meningkatkan profesionalisme terkait mental, komitmen, dan kualitas agar memiliki kompetensi sesuai dengan perkembangan Revolusi Industri 4.0.

Pembahasan
A.   Sejarah Perkembangan Industri 4.0
Definisi mengenai Industri 4.0 beragam karena masih dalam tahap penelitian dan pengembangan. Kanselir Jerman, Angela Merkel (2014) berpendapat bahwa Industri 4.0 adalah transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional. Schlechtendahl dkk (2015) menekankan definisi kepada unsur kecepatan dari ketersediaan informasi, yaitu sebuah lingkungan industri di mana seluruh entitasnya selalu terhubung dan mampu berbagi informasi satu dengan yang lain.
Pengertian yang lebih teknis disampaikan oleh Kagermann dkk (2013) bahwa Industri 4.0 adalah integrasi dari Cyber Physical System (CPS) dan Internet of Things and Services (IoT dan IoS) ke dalam proses industri meliputi manufaktur dan logistik serta proses lainnya. CPS adalah teknologi untuk menggabungkan antara dunia nyata dengan dunia maya. Penggabungan ini dapat terwujud melalui integrasi antara proses fisik dan komputasi (teknologi embedded computers dan jaringan) secara close loop (Lee, 2008).
Industri revolusi generasi pertama kali terjadi di Britania Raya pada akhir abad ke-17 yang terjadi secara spontan tanpa adanya dorongan dari pemerintah dan merupakan generasi yang paling signifikan perubahannya dalam rangkaian generasi revolusi industri; dari konvensional menjadi berbasis teknologi (Deane, 2003). Lahirnya penemuan mesin uap dan alat tenun listrik menjadi titik awal industri 1.0 yang merupakan zaman mesin industri pertama (Hartwell, 2017).
Industri 2.0 merupakan hasil upgrade dari industri 1.0 dimana sistem produksi pabrik telah menerapkan elektromagnetik dan memproduksi secara massal menggunakan sistem assembly lines (Zhou, Zhou, & Liu, 2015). Revolusi industri kedua ini distimulasi oleh teori Faraday dan Maxwell yang mengkombinasikan gaya magnet dan gaya listrik. Kedua teori tersebut kemudian melahirkan pembangkit listrik dan motor listrik yang berperan penting dalam lini perakitan (assembly line) untuk produksi massal (Xing & Marwala, 2006)
Era industri 3.0 dimana internet merupakan inovasi yang dikembangkan dengan kemajuan teknologi yang memudahkan perusahaan untuk saling berkomunikasi melalui perangkat keras, jaringan perangkat lunak komputer, dan sistem telekomunikasi (Smith, 2000).
Konsep revolusi industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab. Ekonom terkenal asal Jerman yang menulis dalam bukunya, The Fourth Industrial Revolution bahwa konsep itu telah mengubah hidup dan kerja manusia. Industri 4.0, yang sedang berlangsung saat ini, mengacu pada kemajuan teknologi modern di mana internet dan teknologi pendukung (seperti embbeded system/ sistem tertanam) berperan sebagai pusat pengoperasian integrasi sistem produksi. Konsep-konsep seperti Internet of Things (IoT), internet industri, komputasi awan (Cloud-based Manufactoring), dan Smart Manufacturing merupakan aspek penting dari konsep visioner revolusi industri keempat (Schumacher, Erol, & Sihn, 2016).

B.   Pendidikan Dalam Era Revolusi Industri 4.0

Pola kerjasama antara dunia akademik dan industri sangat diperlukan untuk mempercepat realisasi Industri 4.0. Tren peningkatan jumlah riset tiap tahunnya menjadi bukti bahwa para akademisi mulai mengarahkan fokus risetnya pada Industri 4.0. Kondisi ini perlu diperhatikan oleh dunia pendidikan terutama di negara-negara berkembang agar segera tanggap terhadap perubahan yang terjadi dan mempersiapkan sumber daya yang dimiliki dalam rangka menghadapi tren Industri 4.0.
Hermann et al (2016) menambahkan, ada empat desain prinsip industri 4.0. Pertama, interkoneksi (sambungan) yaitu kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan orang untuk terhubung dan berkomunikasi satu sama lain melalui Internet of Things (IoT) atau Internet of People (IoP). Prinsip ini membutuhkan kolaborasi, keamanan, dan standar. Kedua, transparansi informasi merupakan kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan virtual dunia fisik dengan memperkaya model digital dengan data sensor termasuk analisis data dan penyediaan informasi. Ketiga, bantuan teknis yang meliputi; (a) kemampuan sistem bantuan untuk mendukung manusia dengan menggabungkan dan mengevaluasi informasi secara sadar untuk membuat keputusan yang tepat dan memecahkan masalah mendesak dalam waktu singkat; (b) kemampuan sistem untuk mendukung manusia dengan melakukan berbagai tugas yang tidak menyenangkan, terlalu melelahkan, atau tidak aman; (c) meliputi bantuan visual dan fisik. Keempat, keputusan terdesentralisasi yang merupakan kemampuan sistem fisik maya untuk membuat keputusan sendiri dan menjalankan tugas seefektif mungkin.
Perguruan tinggi/universitas harus bisa mengikuti trend perkembangan teknologi, yang menjadi barometer dalam menangani pendidikan, perlu mencari metode untuk mengembangkan kapasitas kognitif mahasiswa: higher order mental skills, berfikir kritis dan sistemik, dan menjadi amat penting untuk bertahan di era revolusi industri 4.0. Karakteristik revolusi industri 4.0, ini meliputi digitalisasi, optimalisasi, dan kustomisasi produksi, otomasi dan adapsi, human machine interaction, value added services and businesses, automatic data exchange and communication, dan memadukan penggunaan teknologi internet. Saat ini, di Indonesia baru ada 51 perguruan tinggi negeri (PTN) yang siap menggelar kuliah non tatap muka, dalam menghadapi era disrupsi teknologi informasi dan komunikasi, sedangkan PTS masih terus berpacu meningkatkan peran dari model kuliah kompensional menuju ke arah yang lebih baik dalam era revolusi industri. Pengembangan Cyber University sudah banyak diterapkan di negara maju.  
Digitalisasi yang merubah data menjadi informasi telah mendisrupsi dunia pendidikan. Mesin pencari informasi menjadi sumber pembelajaran yang sangat kaya dan menyediakan beragam sumber pembelajaran, sehingga seorang peserta didik datang ke kelas sudah dengan beragam informasi yang telah dicari, ditemukan dan didengarnya.
Klaus Schwab, Executive Chairman World Economic Forum dalam artikel ilmiahnya memiliki hipotesis bahwa saat ini miliaran orang telah terhubung dengan perangkat mobile, penemuan kecepatan pemrosesan byte demi byte data internet, perkembangan besaran kapasitas penyimpanan hard drive data telah meningkatkan kapasitas pengetahuan manusia melebihi sistem konvensional yang didapatkan anak-anak di bangku sekolah, bagaimana akses terhadap ilmu pengetahuan begitu terbuka secara nyata, tidak terbatas dan belum pernah terjadi sebelumnnya. Semua ini bukan lagi mimpi, tetapi telah menjadi terobosan teknologi baru di bidang robotika, Internet of Things, kendaraan otonom, percetakan berbaris 3-D, nanoteknologi, bioteknologi, ilmu material, penyimpanan energi, dan komputasi kuantum.
Pendidikan 4.0 merupakan cara untuk melengkapi fenomena integrasi digital dalam kehidupan sehari-hari di mana manusia dan mesin berinteraksi untuk memecahkan masalah dan menemukan teori inovasi baru. Dalam pendidikan 4.0, akses informasi tidak terbatas ruang dan waktu serta proses belajar mengajar telah menjadi dinamis. Masa depan pendidikan 4.0 dapat mengubah pemanfaatan informasi dengan cara yang praktis dan berbasis digital. Untuk mengatasi kebutuhan revolusi industri 4.0 dalam pendidikan, lembaga pendidikan harus terus mengintegrasikan metode inovatif untuk meningkatkan proses belajar mengajar (Halili, 2019).

C.   Revitalisasi Sistem Pembelajaran

Klaus Schwab, Executive Chairman World Economic Forum dalam artikel ilmiahnya memiliki hipotesis bahwa saat ini miliaran orang telah terhubung dengan perangkat mobile, penemuan kecepatan pemrosesan byte demi byte data internet, perkembangan besaran kapasitas penyimpanan hard drive data telah meningkatkan kapasitas pengetahuan manusia melebihi sistem konvensional yang didapatkan anak-anak di bangku sekolah, bagaimana akses terhadap ilmu pengetahuan begitu terbuka secara nyata, tidak terbatas dan belum pernah terjadi sebelumnnya. Semua ini bukan lagi mimpi, tetapi telah menjadi terobosan teknologi baru di bidang robotika, Internet of Things, kendaraan otonom, percetakan berbaris 3-D, nanoteknologi, bioteknologi, ilmu material, penyimpanan energi, dan komputasi kuantum.
Hecklau, Galeitzke, Flachs, & Kohl, 2016 (dalam Wiyono dan Zakiah 2019 : 6) menegaskan bahwa kompetensi inti yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan industri 4.0 adalah :
1.    Kategori Kompetensi Teknikal; pada kategori ini dibuhkan kompetensi berupa; (a). Pengetahuan terbarukan; (b) kemampuan teknikal; (c) kemampuan pemahaman yang cepat; (d) kemampuan menggunakan media; (e) kemampuan coding dan pemrograman; (e) memahami sistem keamanan IT.
2.     Kategori Kompetensi Metodologi; kategori ini terdiri atas (a) kreatifitas; (b) berjiwa entrepreneur; (c) problem solving; (d) conflict solving; (e) kemampuan memilih keputusan (f) kemampuan analitis; (g) research skills; (h) berorientasi efisien.
3.    Kategori Kompetensi Sosial; kategori ini terdiri atas (a) Kemampuan adaptasi antar budaya; (b) Kemampuan berbahasa; (c) Kemampuan berkomunikasi; (d) Kemampuan membangun jaringan; (e) Kemampuan bekerja sama dalam tim; (f) Kemampuan mentransfer pengetahuan; (g) Kemampuan memimpin
4.    Kategori Kompetensi Personal; kategori ini meliputi (a) Fleksibilitas; (b) Kemampuan bertoleransi/adaptasi; (c) Motivasi untuk belajar; (d) Mampu bekerja di bawah tekanan; (e) Memiliki inisiatif; dan (f) Mudah menyesuaikan dengan kemajuan teknologi
Perubahan dalam sistem pendidikan tentunya akan berdampak pula pada peran guru sebagai tenaga pendidik. Guru dituntut memiliki kompetensi tinggi untuk menghasilkan peserta didik yang mampu menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0. Qusthalani menyebutkan lima kompetensi yang harus dipersiapkan guru memasuki era Revolusi Industri 4.0, yaitu, pertama, educational competence, kompetensi pembelajaran berbasis internet sebagai basic skill; kedua, competence for technological commercialization. Artinya seorang guru harus mempunyai kompetensi yang akan membawa peserta didik memiliki sikap entrepreneurship dengan teknologi atas hasil karya inovasi peserta didik; ketiga, competence in globalization, yaitu, guru tidak gagap terhadap berbagai budaya dan mampu menyelesaikan persoalan pendidikan. Keempat, competence in future strategies dalam arti kompetensi untuk memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya, dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-resources, staff mobility, dan rotasi. Kelima, conselor competence, yaitu kompetensi guru untuk memahami bahwa ke depan masalah peserta didik bukan hanya kesulitan memahami materi ajar, tetapi juga terkait masalah psikologis akibat perkembangan zaman.
Gerakan kebaruan untuk merespon era industri 4.0. Adalah salah satu gerakan yang dicanangkan oleh pemerintah adalah gerakan literasi baru sebagai penguat bahkan menggeser gerakan literasi lama. Gerakan literasi baru yang dimaksudkan terfokus pada tiga literasi utama yaitu, 1) literasi digital, 2) literasi teknologi, dan 3) literasi manusia (Aoun, 2017). Tiga keterampilan ini diprediksi menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan di masa depan atau di era industri 4.0. Literasi baru yang diberikan diharapkan menciptakan lulusan yang kompetitif dengan menyempurnakan gerakan literasi lama yang hanya fokus pada peningkatan kemampuan membaca, menulis, dan matematika
Penutup
Memasuki era Revolusi Industri 4.0, kebutuhan dunia pendidikan akan teknologi merupakan suatu keniscayaan. Karena itu, perguruan tinggi dituntut untuk melakukan revitalisasi sistim, baik itu dalam sistem pelayanan akademik, pembelajaran hingga fasilitas dalam mendorong output perguruan tinggi yang kompeten dan berdaya saing.
Industri 4.0 membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan dalam literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia. Pendidikan tinggi harus mampu membekali lulusan dengan ketiga literasi tersebut melalui revitalisasi chronosystem yang meliputi sistem pembelajaran, unit pengelola pendidikan, mahasiswa, dan Dosen dan tenaga kependidikan.
Daftar Pustaka

D’Souza, U., & Kamaruddin, M. (2016). Industrial Revolution 4 . 0 : Role of Universities, 8(9), 2–3. https://doi.org/10.6007/IJARBSS/v8-i9/4593
Halili, S. H. (2019). Technological Advancements In Education 4 . 0, 7(1), 63–69.
http://www.scribd.com/doc/4812047/Revolusi-Industri-Inggris, diakses tanggal 24 Agustus 2019 pukul 12.25 WIT.
http://www.scribd.com/doc/13262601/Sejarah-Revolusi-Industri, diakses tanggal 24 Agustus 2019, pukul 12.25 WIT.
Mahmudi, Ali. (2009). Mengembangkan Kompetensi Guru Melalui Lesson Study. Jurnal Forum Kependidikan, Volume 28, No. 2, Maret 2009
Meulen, SJ, dan W.J.van der, Belajar dan Lahirnya Industrialisasi di Eropa, Jakarta : Yayasan Kerjasama Perguruan Tinggi
Yahya Muhammad 2018 “ Era Industri 4.0 : Tantangan dan Peluang Perkembangan Pendidikan Kejuruan Indonesia. Makalah Orasi Ilmiah
 Zakiyah, S., Akhsan, H., & Wiyono, K. (2019). Developing introduction to quantum physics textbook in the syllabus of spin particles based on science, technology, engineering, and mathematics (STEM). Journal of Physics: Conference Series, 1166

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WASIAT SULTAN MUHAMMAD AL-FATIH UNTUK ANAKNYA

"Tak lama lagi aku akan menghadap Allah Subhanahu waTa'ala. Namun aku sama sekali tidak merasa menyesal, sebab aku meninggalk...