Kamis, 30 Januari 2020

TEORI DAN PERKEMBANGAN FILSAFAT


Oleh :

ASYHARI A. USMAN


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di tinjau dalam kacamata historis kemajuan progresif pengetahuan manusia dengan menjadikan alam sebagai objek kajiannya adalah merupakan sumbagsi terbesar ilmu filsafat, hal ini dapat dilihat dari kehadiran berbagai bidang ilmu yang memiliki corak berdasarkan bidang kajiannya masing-masing. Lebih kurang seratus tahun yang lalu, fisika teoritis_ berkenaan dengan perdebatan fundamental mengenai alam fisik, masih dilukiskan sebagai “Filsafat alamiah”.
Filsafat telah berhasil mengubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia   dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Awalnya bangsa Yunani dan bangsa lain di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini dipengaruhi oleh para dewa. Karenanya para dewa dihormati dan sekaligus ditakuti kemudian disembah. Dengan filsafat, pola pikir yang selalu tergantung pada dewa diubah menjadi pola pikir yang tergantung pada rasio. Perubahan dari pola pikir mitosentris ke logosentris membawa implikasi yang tidak kecil. Alam dan segala-galanya, yang selama ini ditakuti kemudian didekati dan bahkan dieksploitasi. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik di alam jagad raya  (makro kosmos) maupun alam manusia (mikrokosmos). Pada perkembangan selanjutnya, ilmu terbagi dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan, dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya (Bakhtiar Amsal 2010 : XII).

Terminologi kemajuan (progress) sebuah peradaban kemudian menjadi satu-satunya ukuran kebenaran. Logika kebenaran peradaban adalah logika kemajuan dengan penemuan sains dan teknologinya sebagai salah satu ‘keunggulan’ komparatif manusia ‘maju’. Implikasi logisnya, peradaban modern; utamanya semenjak abad Renaisans, terlebih pada abad Pencerahan, -dengan demikian- adalah representasi kebenaran peradaban dengan mengesampingkan kenyataan historis ‘kemajuan’ yang dicapai abad-abad sebelumnya. Modernisme menurut Bambang Sugiharto (1996: 29) sebagai gerakan pemikiran dan gambaran dunia tertentu yang awalnya diinspirasikan oleh rasionalisme Descartes, dikokohkan oleh gerakan Pencerahan (enlightenment / aufklarung) dan mengabadikan dirinya hingga abd ke-20 melalui dominasi sains dan kapitalisme.
Menariknya, hampir segenap bangunan peradaban modern, mungkin peradaban lainnya, selalu meletakkan ‘manusia’ sebagai subjek otonom, pusat kesadaran dunia yang mempunyai ‘hak’ penuh secara bebas mengembangkan kreativitasnya tanpa belenggu otoritas apapun, termasuk otoritas agama. Pada konteks inilah, humanisme sebagai sebuah aliran kefilsafatan yang menempatkan ‘kebebasan’ manusia; baik berpikir, bertindak dan bekerja, sebagai segala­galanya, berpengaruh secara signifikan terhadap munculnya bangunan peradaban modern (mungkin juga lainnya).
Ilmu pengetahuan (sains) adalah teori-teori yang dikumpulkan manusia melalui suatu proses pengkajian dan dapat diterima oleh rasio. Dalam pengumpulan data dan berbagai observasi dan pengukuran pada gejala alamiyah itu dianalisis, kemudian diambil kesimpulan. Inilah yang diberi istilah intizhari suatu kajian yang ada hubungannya dengan nazhar, yang bunyi dan artinya dekat dengan nalar.
Intizhari akan melahirkan teori-teori baru, kemudian menghasilkan teknologi sebagai penerapan sains secara sistematis untuk mengubah / mempengaruhi alam rnateri di sekeliling kita dalam suatu proses produktif ekonomis untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat rnanusia. Teknologi pembuatan mesin, pembuatan obat-obatan, pembuatan beraneka ragarn bahan, termasuk bahan makanan, dan sebagainya adalab hasil penerapan ilmu fisika, kimia, biologi, dan lain-lain ilmu kealaman yang sesuai.

PEMBAHASAN
B.     Pembahasan
1.      Teori
Teori adalah suatu bentuk pandangan yang diakumulasi dalam satu bentuk kegiatan baik bersifat penalaran maupun yang bersifat ilmiah dan diakui oleh umum. Dalam filsafat ilmu terdapat tiga teori, yakni :
a.       Teori pengetahuan (Epistimologi) adalah cara membentuk pengetahuan logika dengan cara membentuk pengetahuan itu sendiri. Ada beberapa teori yang dapat dilahat sebagai teori pengetahuan, yakni :
-          Empirisme (John Locke 1632-1704)
-          Rasionalisme (Rene Decartes 1596 – 1650)
-          Positivisme (August Compte, 1798 – 1857)
-          Intusionisme (Hendri Bergson, 1859 – 1941)
b.      Teori Hakikat (Ontologi) adalah pembahasan pengetahuan objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakekatnya. Teori ini terdiri atas :
-          materialisme/naturalisme :hakikat benda adalah materi itu sendiri, rohani, jiwa, spirit muncul dari benda, Naturalisme tidak mengakui roh , jiwa tentu saja termasuk Tuhan
-          Idealisme : Hakikat benda adalah rohani, spirit. Alasan : nilai rohnya lebih tinggi dari badan, manusia tidak dapat memahami dirinya daripada dunia dirinya.
-          Dualisme : hakikat benda itu dua, materi dan imateri, materi bukan muncul dari roh, roh bukan muncul dari benda, sama-sama hakikatnya
-          Agnotisme : manusia tidak dapat mengetahui hakikat benda
c.       Teori Nilai (Aksiologi) adalah pengetahuan etika-estetika
-          Hedonisme : sesuatu dianggap baik jika mengandung kenikmatan bagi manusia (hedon)
-         

Vitalisme : baik buruknya ditentukan oleh ada tidaknya kekuatan hidup yang dikandung obyek-obyek yang dinilai, manusia yang kuat, ulet, cerdas adalah manusia yang baik
-          Utilitarisme : Yang baik adalah yang berguna, jumlah kenikmatan- jumlah penderitaan = nilai perbuatan
-          Pragmatisma : Yang baik adalah yang berguna secara praktis dalam kehidupan, ukuran kebenaran suatu teori ialah kegunaan praktis teori itu, bukan dilihat secara teoritis
2.      Filsafat
a.      Pengertian Filsafat
Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : Philosophia, yang terdiri atas dua kata : Philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, ketrampilan, pengalaman praktis, inteligensi), dalam bahasa inggiris sendiri, kata filsafat  berasal dari philosophy. Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom). Orangnya disebut filosof yang  dalam bahasa arab disebut Failasuf  (Bakhtiar Amsal 2005 : 4)
Istilah filsafat sering dipergunakan secara populer dalam kehidupan sehari-hari, baik secara sadar maupun tidak sadar. Dalam penggunaan secara populer, filsafat dapat diartikan sebagai suatu pendirian hidup (individu), dan dapat juga dikatakan pandangan hidup (masyarakat) pandangan populer ini dapat dilihat dari kalimat “Pancasila merupakan satu-satunya Falsafah hidup bangsa Indonesia(Uyoh Sadulloh 2003 : 16). Di pihak lain ada yang beranggapan bahwa filsafat sebagai cara berpikir yang kompleks, suatu pandangan yang tidak memiliki kegunaan praktis. 
Harun Nasition (dalam Bakhtiar Amsal), mengatakan bahwa kata filsafat berasal dari bahasa Arab Falsafa dengan Wazan (timbangan) fa’lala, fa’lalah dan fi’lal. Dengan demikian, kata benda dari falsafa seharusnya falsafah dan filsaf. Menurutnya dalam bahasa Indonesia banyak terpakai kata filsafat, padahal bukan berasal dari kata Arab falsafah dan bukan dari kata Inggris philosophy. Harun Nasution mempertanyakan apakah kata fil berasal dari bahasa Inggris dan safah diambil dari kata Arab, sehingga terjadilah gabungan keduanya, yang kemudian menimbulkan kata filsafat.

Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoretis dan filsafat praktis. Filsafat teoretis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan, dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan metafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusan rumah tangga; (3) sosial dan politik.
Filsafat dapat diartikan juga sebagai “Berpikir reflektif dan kritis”(reflektif and critical thinking). Namun, Ramdhal dan Buchler (1942) memberikan kritik terhadap pengertian tersebut, dengan mengemukakan bahwa definisi tersebut tidak memuaskan karena beberapa alasan, yaitu : 1) tidak menunjukkan karakteristik yang berbeda antara berpikir filosofi dengan fungsi-fungsi kebudayaan dan sejarah, 2) para ilmuan juga berpikir reflektif dan kritis, padahal antara sains dan filsafat berbeda, 3) ahli hukum, ahli ekonomi, juga ibu rumah tangga sewaktu-waktu berpikir reflektif dan kritis, padahal mereka bukan filosof atau ilmuan. (Uyoh Sadulloh 2009 : 17)
Sutan Takdir Alisjahbana yang dikutip Bakhtiar Amsal dalam bukunya Filsafat Ilmu, berpendapat bahwa filsafat adalah berpikir dengan insaf. Yang dimaksud dengan insaf adalah  berpikir dengan teliti, menurut aturan yang pasti. Sementara itu, Deng Fung Yu Lan, seorang filosof dari dunia Timur, mendefinisikan filsafat adalah pikiran yang sistimatis dan refleksi tentang hidup.   
b.      Obyek Filsafat
Pada dasarnya setiap ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti Mekanika adalah objek material ilmu fisika. Adapun objek formalnya adalah metode untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan deduktif dan induktif.
Objek material filsafat adalah segalah yang ada. Kaitannya dengan segalah yang ada adalah sesuatu yang tampak dan yang tidak tampak. Sedangkan objek formal dari filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada.
c.       Model-model Filsafat

Beda orang, beda cara berpikirnya dalam mendekati filsafat. Mulai dari yang sangat abstrak dan matematis hingga yang konkrit dan historis dan dari sangat positifistis hingga yang sangat teologis. Sejak Rene Deskartes, filusuf moderen pertama yang sangat penting diabad ke-17, hingga Otto Neurath, seorang positifis logis abad ke-20 (Ravertz 2009 : 69). Dari perbedaan yang ada, Filsafat sebagai metode berpikir, maupun sebagai hasil berpikir radikal, sistematis, dan universal tentang segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, dapat dibedakan menjadi :
-          Filsafat Spekulatif
Filsafat spekulatif adalah cara berpikir sistematis tentang segala yang ada (Sadulloh 2003 : 19). Filsafat spekulatif tergolong filsafat tradisional. Dalam hal ini filsafat dianggap sebagai suatu bangunan pengetahuan (body of knowledge). Filsafat spekulatif merenungkan secara rasional spekulatif seluruh persoalan manusia dalam hubungannya dengan segala yang ada pada jagat raya ini. Filsafat mencari keteraturan dan keseluruhan yang diterapkan, bukan pada suatu item pengalaman khusus, melainkan pada semua pengalaman dan pengetahuan.
-          Filsafat Perskriptif
Filsafat perskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilian tentang perbuatan manusia, dan penilaian tentang seni (Sadulloh 2003 : 19). Filsafat perskriptif menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek. Bagi pendidik dan ahli filsafat preskriptif, menilai suatu perilaku ada yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat. Dengan demikian filsafat peskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat.
-          Filsafat Analitik

Model analitik terdapat dua golongan, yaitu analitik linguistik dan analitik positivistik logis. Model analitik linguistik mengandung arti bahwa filsafat sebagai analisis logis tentang bahasa dan penjelasan makna istila (Sadulloh 2003 : 21). Beberapa filsuf mengatakan bahwa analisis tentang arti bahasa merupakan tugas pokok filsafat dan tugas analisis konsep sebagai satu-satunya fungsi filsafat.  G.E Moore, Bertrand Russell, G. Ryle (dalam Uyoh Sadulloh) berpendapat bahwa  tujuan filsafat adalah menyingkirkan kekaburan-kekaburan dengan cara menjelaskan arti istilah atau ungkapan yang dipakai dalam ilmu pengetahuan dan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berpendirian bahwa bahasa merupakan laboraterium para filsuf, yaitu tempat menyemai dan mengembangkan ide-ide. Sementara itu Wittgenstein mengatakan bahwa tanpa penggunaan logika bahasa, pernyataan-pernyataan akan tidak bermakna (Amsal Bakhtiar 2010 : 176).
Model analitik positivistik logis dikenal dengan neo positivisme dikembangkan oleh Bertrand Russel. Model ini melanjutkan filsafat positivisme dari Comte yang merupakan peletak dasar  pendekatan kuantitatif  dalam pengembangan ilmu (Sadullo 2003 : 22). Model analitik positivistik menjadikan matematika sebagai dasar bagi  semua cabang ilmu. Kunto Wibisono (dalam Uyoh Sadulloh) menyebutkan bahwa positivisme merupakan suatu model dalam pengembangan ilmu pengetahuan  (knowledge) yang didalam langkah kerjanya menempuh jalan melalui observasi, eksperimentasi, dan komparasi sebagaimana diterapkan dalam ilmu kealaman, dan model ini dikembangkan dalam ilmu-ilmu sosial.

3.      Mungkinkah Manusia Itu Mempunyai Pengetahuan
Manusia mamiliki insting seperti yang di miliki oleh hewan. Namun, manusia memiliki kelebihan yaitu kemampuan “berpikir” dengan kata lain “ curiousity”-nya tidak “idle” tidak tetap itu sepanjang zaman. Manusia memiliki rasa ingin tahu yang berkembang, atau dengan kata lain manusia mempunyai kamampuan berpikir. Ia bertanya terus setelah tahu tentang “apa” mereka juga ingin tahu “bagaimana” dan “mengapa” begitu (Jasin Maskoeri 2002 : 13).
Rasa ingin tahu yang terus berkembang dan seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan perbendaharaan pengetahuan pada manusia itu sendiri. Hal ini tidak saja meliputi kebutuhan-kebutuhan praktis untuk hidupnya sehari-hari seperti bercocok tanam atau membuat panah atau lembing yang lebih efektif untuk berburu, tetapi pengetahuan manusia juga berkembang sampai kepada hal-hal yang menyangkut keindahan.

Selain rasa ingin tahu, perilaku manusia juga ditunjukkan oleh organ tubuh ketika berhubungan dengan manusia lain, pada dasarnya, diatur dan dikontrol oleh sistem jaringan otak. Jaringan ini mengendalikan bagian spesifik otak sehingga terjadi sinergisitas  antar sel saraf, otot, dan organ tubuh bagian luar. Sinergisitas ini penumbuh kemampuan untuk menunjukkan, memproses, atau menerjemahkan pesan dari seseorang, mengirimkannya kembali kepada orang lain (Deni Darmawan 2009 : 3).
Proses pengiriman informasi (pengetahuan) manusia dilakukan secara turun temurun, hal ini yang kemudian mendorong setiap generasi melakukan berbagai inofasi dan teknik yang kemudian memberikan corak berdasarkan perkembangan kebutuhan yang terjadi. Dalam persepektif historis, pola perkembangan pengetahuan manusia ini sudah terjadi cukup lama, dan ini dapat dilihat dari mulai jaman Batu, hingga jaman perunggu, dari jaman kalasik hingga moderen.

4.      Sumber dan Alat Pengetahuan
a.      Mitos
Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan maupun pengalamannya. Untuk memuaskan alam pikirannya, manusia mereka-reka sendiri jawabannya. Sebagai contoh “apakah pelangi itu ?”, karma tak dapat jawab, mereka mereka-reka jawaban bahwa pelangi adalah selendang “bidadari”. Jadi muncul pengetahuan baru yaitu “bidadari”. Contoh lain mengapa gunung meletus? ,karma tak tahu jawabannya maka di reka-reka sendiri dengan jawaban”yang berkuasa dari gunung itu sedang marah”. Maka disini muncul pengetahuan baru yang disebut “yang berkuasa”. Dengan menggunakan jalan pikiran yang sama muncullahn anggapan adanya “yang berkuasaa” di dalam hutan lebat, sungai yang besar, pohon yang besar, matahari, bulan, atau adanya raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana rembulan. Pengetahuan-pengetahuan baru yang bermunculan dan kepercayaan itu kita sebut dengan “mirtos” Adapun cerita yang berdasarkan atas mitos ini di sebut “legenda”. ( Jasin Maskoeri 2002 : 24)
Mitos itu timbul di sebabkan antara lain karna keterbatrasan alat indra manusia misalnya :
-          Alat penglihatan
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata.mata tak dapat membedakan 10 gambar yang berada satu dengan yang lain dalam satu detik. Jika ukuran partikel terlalu kecil, demikian juga jiaka benda yang di lihat terlalu jauh. Maka tak mampu melihatnya. 

Alat pendengar
Pedengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai ferkuensi 30 sampai 30.000 per/detik. Getaran dibawah tiga puluh atau di atas tiga puluh ribu per/detik tak mendengar.
-          Alat pencium dan pencecap
Bau rasa tidak dapat memastikan benda yang dicecap maupun di ciumnya. Manusia hanya bias membedakan 4 jenis rasa yaitu rasa manis,asam, asin, dan pahit. Baui seperti parfum dan bau-bauan yang lain dapat di kenal oleh hidung kita bila konsentrasinya di udara lebih dari sepersepuluh juta bagian. Melalui bau manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain, namun tidak semua orang mampu melakukannya.
-          Alat Perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat di bedakan panas atau dingin namun sangat relative, sehingga tidak bias di pakai sebagai alat observasi yang tepat.
b.      Penalaran
Manusia secara terus menerus selalu mengembakan pengetahuannya tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan yang menyangkut kebutuhan kelangsungan hidupnya saja. Mereka berusaha untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Mereka juga berusaha untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, dan yang indah dan mana yang jelek. Mereka harus berpikir dan harus nerasakan sedemikian hingga menarik kesimpulan, dan memperoleh pengetahuan. Pada hakikatnya, manusia merupakan makhluk berpikir, merasa bersikap dan bertindak.

Berpikir adalah suatu kegiatan untuk memperoleh /menemukan pengetahuan yang benar. Dan proses berpikir dalam menarik kesimpulan yang berupa pengetahuan yang benar ini disebut penelaran. Pengetahuan yang dihasilkan penalaran ini hasil kegiatan berpikir, bukanlah hasil perasaan. Perlu kita sadari bahwa tidak senua kegitan berpikir merupakan penalaran. Maskoeri Jasin dalam buku Ilmu Alamiah Dasar menjelaskan bahwa penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai ciri-ciri tertentu yakni logis dan analisis.
Ada berbagai cara cara untuk menperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang tidak berdasarkan penalaran, antara lain:
  1. Pengambilan kesimpulan berdasarkan perasaan. Merasa merupakan suatu cara menarik kesimpulan yang tidak berdasarkan penalaran.
  2. Intuisi; intuisi merupakan kegiatan berpikir yang tidak anlistis, tidak berdasarkan pola berpikir tertentu. Pada pendapat yang berdasarkan intuisi timbul dari pengetahuan-pengetahuan yang terdahulu melalui suatu proses berpikir yang tidak di sadari. Seolah-olah pendapat itu muncul begitu saja tanpa dipikir. Seseorang yang memusatkan pikirannya pada pemecahan suatu masalah tersebut tanpa proses berpikir yang berliku-liku dan teratur.
Instuisi dapat juga timbul pada saat seseorang tidak sepenuhnya sadar, yang ditemukan tidak pada waktu ia sadar sedang memikirkan masalah tersebut timbullah instuisi mungkinterjadi juga pada seseorang yang menunda pemecahan suatu masalah karena mengalami jalan buntu. Pada orang itu secara tiba-tiba muncul jawaban yang lengkap dari masalah yang tidak sedang ia cari itu. Ia merasa bahwa itulah jawaban yang  ia cari, tetapi ia tidak dapat menjelaskan bagaimana ia sampai pada pemecahan masalah tersebut. Pengetahuan intuitif tidak dapat di andalkan sebagai dasar untuk menyusun penegtahuan secara teratur. Pengetahuan ini dapat di gunakan sebagai hipotesis dan selanjutnya perlu dilakukan analisis untuk menentukan kebenaranya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa instuisi merupakan pengalaman puncak. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa instuisi merupakan intelegensi yang paling tinggi.
  1. Wahyu; wahyu adalah pengetahuan yang di sampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini di salurkan lewat Nabi yang di utus-Nya. Dengan wahyu,manusia memperoleh penegtahuan dengan keyakinan (kepercayaan) bahwa yang di wahyukan tersebut benar.

  2. Trial and error. Trial and error adalah suatu cara untuk memperoleh pengetahuan secara coba-coba atau untung-untungan. Mulai zaman purba sampai sekarang banyak manusia yang dalam usaha memperoleh pengetahuan dengan cara coba-coba memakan waktu yang lama, hingga cara ini merupakan cara yang tidak efisien bila digunakan untuk mencari kebenaran.
PENUTUP

Filsafat dan Ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Ilmu bisa maju (yaitu agar aksioma atau pernyataan denotatif bisa diterima) para ilmuan baik secara individu atau kelompok harus memperoleh persetujuan dari semua ilmuan dalam bidang yang sama. Kemudian bila pemikiran ilmiah menjadi semakin rumit, maka demikian juga bentuk pembuktiannya: semakin rumit buktinya, semakin rumitlah teknologi yang diperlukan untuk mencapai tataran keabsahan yang diterima secara umum.
Demikianlah, makalah Filsafat Ilmu ini dibuat sebagai bagian dari tanggung jawab ilmiah untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan ilmu tanpa mengindahkan sejarah perjalanan ilmu itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar Amsal; Filsafat Ilmu; Raja Grafindo Persada Jakarta, 2010
Darmawan Deni, Komunikasi Pembelajaran Berbasis Brain, Humaniora; Bandung, 2009
http//www.foxitsovtware.com; dr. Liza; Pengantar Filsafat dan Ilmu; Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon 2006;  
Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu, Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan; Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2009
John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer, Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas; Kanisius Yogyakarta 2001
Louis O. Kattsof, Pengantar Filsafat di Terjemahkan Oleh Soejono Soemargono, Tiara Wacana, Bandung, 1998
Maskoeri Jasin;  Ilmu Alamiah Dasar , Raja Grafindo Persada; Jakarta, 2002
Uyoh Sadulloh; Pengantar Filsafat Pendidikan; Alfabeta Bandung, 2003


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WASIAT SULTAN MUHAMMAD AL-FATIH UNTUK ANAKNYA

"Tak lama lagi aku akan menghadap Allah Subhanahu waTa'ala. Namun aku sama sekali tidak merasa menyesal, sebab aku meninggalk...